Latar Belakang

Indonesia memiliki agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu dan berbagai kepercayaan yang selalu terpelihara di bawah naungan dasar Pancasila. Keanekaragaman tersebut tidak begitu saja tercipta, tanpa adanya upaya maksimal dari seluruh elemen masyarakat terutama generasi muda. Masyarakat menjadi ujung tombak untuk memelihara kebhinekaan yang tumbuh di Indonesia dengan segala kekayaan adat budaya dan keragaman suku, agama, ras dan golongan melalui sikap toleran dan menghargai anti kekerasan.

Penelitian tentang intolerasi di sekolah yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa 8,2 persen pelajar yang menjadi responden menolak Ketua OSIS dari agama berbeda. Selain itu, ada pula 23 persen responden yang merasa lebih nyaman dipimpin oleh seseorang yang satu agama. Penelitian yang dilakukan Kemdikbud pada tahun 2016 ini juga mengungkapkan bahwa sekolah negeri ternyata menjadi ladang meningkatnya intoleransi dibandi SMA swasta berbasis agama. Artinya bahwa kecenderungan sekolah yang plural justru banyak menumbuhkan praktek intoleransi.

Praktek-praktek intoleransi ini dapat memicu konflik seperti yang selama ini ada di Kota Depok seperti konflik tawuran pelajar dan bullying. Berbekal data dan fakta di atas, untuk mengatasi persoalan intoleransi dan kekerasan di sekolah pada generasi muda, PIRAC berikhtiar mendorong terciptanya sikap toleran dan anti kekerasan dalam sebuah “Program GEMPITA (GEnerasi Muda Pendukung Toleransi & Anti kekerasan)”. Upaya ini akan dibarengi dengan peningkatan wawasan pengetahuan dan kapasitas lingkungan sekolah (kepala sekolah, guru, dan murid serta orang tua murid) serta menyiapkan lingkungan sekolah yang menghargai tolerasi dan anti kekerasan.